Archive for March, 2008

Parent’s Affection

March 28, 2008

Parent’s Affection

Seperti biasa Rudi, Kepala Cabang di sebuah perusahaan swasta terkemuka di Jakarta, tiba di rumahnya pada pukul 9 malam. Tidak seperti biasanya, Imron, putra pertamanya yang baru duduk di kelas 2 SD yang membukakan pintu. Ia nampaknya sudah menunggu cukup lama.

“Kok belum tidur?” sapa Rudi sambil mencium anaknya. Biasanya, Imron memang sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga ketika ia akan berangkat ke kantor pagi hari.

Sambil membuntuti sang ayah menuju ruang keluarga, Imron menjawab, “Aku nunggu Ayah pulang. Sebab aku mau tanya berapa sih gaji Ayah?”

“Lho, tumben. Kok nanya gaji Ayah? Mau minta uang lagi, ya?”.

“Ah, enggak. Pengen tahu aja.”

“Oke. Kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Ayah bekerja sekitar 10 jam dan dibayar Rp 400.000,-. Dan setiap bulan rata-rata dihitung 25 hari kerja. Jadi, gaji Ayah dalam satu bulan berapa, hayo?”

Imron berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar, sementara ayahnya melepas sepatu dan menyalakan televisi. Ketika Rudi beranjak menuju kamar untuk berganti pakaian, Imron berlari mengikutinya.

“Kalau satu hari ayah dibayar Rp 400.000,- untuk 10 jam, berarti satu jam ayah digaji Rp 40.000,- dong,” katanya.

“Wah, pinter kamu. Sudah, sekarang cuci kaki, bobok ya”, perintah Rudi.

Tetapi Imron tak beranjak. Sambil menyaksikan ayahnya berganti pakaian, Imron kembali bertanya, “Ayah, aku boleh pinjam uang Rp 5.000,- nggak?”

“Sudah, nggak usah macam-macam lagi. Buat apa minta uang malam-malam begini? Ayah capek dan mau mandi dulu. Tidurlah.”

“Tapi, Ayah…”

Kesabaran Rudi habis. “Ayah bilang tidur!”, hardiknya mengejutkan Imron. Anak kecil itu pun berbalik menuju kamarnya.

Usai mandi, Rudi nampak menyesali hardikannya. Ia pun menengok Imron di kamar tidurnya. Anak kesayangannya itu belum tidur. Imron didapatinya sedang terisak-isak pelan sambil memegang uang
Rp 15.000,- di tangannya.

Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu, Rudi berkata, “Maafkan Ayah, Nak. Ayah sayang sama Imron. Buat apa sih minta uang malam-malam begini? Kalau mau beli mainan, besok kan
bisa. Jangankan Rp 5.000,- lebih dari itu pun ayah kasih.”

“Ayah, aku nggak minta uang. Aku pinjam. Nanti aku
kembalikan kalau sudah menabung lagi dari uang jajan selama minggu ini.”

“Iya,iya, tapi buat apa?” tanya Rudi lembut.

“Aku menunggu Ayah dari jam 8. Aku mau ajak Ayah main ular tangga. Tiga puluh menit saja. Ibu sering bilang kalau waktu Ayah itu sangat berharga. Jadi, aku mau beli waktu ayah. Aku buka tabunganku, ada Rp 15.000,-. Tapi karena Ayah bilang satu jam Ayah dibayar Rp 40.000,-, maka setengah jam harus
Rp 20.000,-. Duit tabunganku kurang Rp 5.000,-. Makanya aku mau pinjam dari Ayah,” kata Imron polos.

Rudi terdiam. Ia kehilangan kata-kata. Dipeluknya bocah kecil itu erat-erat.

Saya tidak tahu apakah kisah di atas fiktif atau kisah nyata. Tapi saya tahu kebanyakan anak-anak orang kantoran maupun wirausahawan saat ini memang merindukan saat-saat bercengkerama dengan orang tua mereka. Saat dimana mereka tidak merasa “disingkirkan” dan diserahkan kepada suster, pembantu atau sopir. Mereka tidak butuh uang yang lebih banyak. Mereka ingin lebih dari itu. Mereka ingin merasakan sentuhan kasih sayang Ayah dan Ibunya. Apakah hal ini berlebihan? Sebagian besar wanita karir yang nampaknya menikmati emansipasinya, ternyata diam-diam menangis dalam hati ketika anak-anak mereka lebih dekat dengan suster, sopir, dan pembantu daripada ibu kandung mereka sendiri. Seorang wanita muda yang menduduki posisi asisten manajer sebuah bank swasta, menangis pilu ketika menceritakan bagaimana anaknya yang sakit demam tinggi tak mau dipeluk ibunya, tetapi berteriak-teriak memanggil nama pembantu mereka yang sedang mudik lebaran.

Bancitainment

March 28, 2008

BANCI

Banci a.k.a bencong a.k.a bencis a.k.a dan sebagainya dan sebagainya. Sepertinya dunia entertainment Indonesia -especially program2 komedi- nggak pernah sepi dari keberadaan mereka, baik yang memang banci maupun yang “katanya” tuntutan peran atau kemauan produser. Sebut saja macam Ivan Gunawan, Olga Saputra, Ozi Syahputra, Ruben Onsu, dan Aming. Yang terakhir ini lebih dikenal dengan sebutan banci monster, abis dandanan sama kelakuannya emang kayak monster, hehehe….

Kenapa ya? Apa para produser kita takut acaranya nggak laku? Atau memang karena tabiat orang-orang kita yang suka “latah”? Tapi kalo diperhatikan sih memang adanya peran2 seperti itu, atau sekedar gaya bicaranya, bisa lebih menyedot perhatian para penonton. Tapi resikonya para pemain peran itu saat ini dipertanyakan orientasi seksualnya, alias diduga suka dengan sesama jenis. Menanggapi hal itu terlontarlah berbagai macam jawaban dari seleb-seleb yang sering -bahkan setiap tampil di TV- jadi banci.

Olga :”Eh, ati-ati dong kalo ngomong, gue tampil kayak gitu itu tuntutan peran, emang maunya produser. Pernah juga kayak di acara kemaren produser minta gue nampilnya nggak banci ya gue tampil seperti itu”.

Ruben :”Yee, enak aja sembarangan nuduh. Gue nggak perlu banyak konfirmasi deh. Yang jelas gue punya cewek (pacar maksudnya, red.), sejak SMA malah, emang nggak pernah gue bawa masuk TV. Yang tau siapa cewek gue itu cuma Ramzi”.

I-Gun :”Gue tampil kayak gini soalnya badan gue udah gede lagi. Jadinya nggak matching kalo gue tampil macho kayak kemaren. Lagian ya, di dunia entertainment kalo mau populer, nggak usah tanggung-tanggung. Kalo cakep ya cakep sekalian, kalo nggak cakep ya nggak cakep sekalian, kalo bencong ya bencong sekalian”.

Redaktur :”Loh??? Berarti???… Hehehe….

Kira-kira demikian lah, walaupun ada sedikit editan, tapi intinya seperti itu. Well, buat aku sih nggak masalah, soalnya memang harus diakui adanya artis-artis macam mereka memberi hiburan tersendiri. Apalagi buat produsernya, misalkan acaranya parah banget nggak lucunya, kan mendingan ada 1-2 orang yang bisa bikin ketawa, jadi nggak ditinggalin penonton.

Dialogue With “One Second”

March 28, 2008

Berdialog dengan “SaTu DeTiK”

Pada suatu hari aku duduk dan menghadapkan hati ini ke hadirat Allah sambil menyesali rentangan usia yang telah kulalui. Kupanggil satu detik dari waktu hidupku. Aku katakan kepadanya :

(+) Aku harap agar engkau mau kembali lagi kepadaku, supaya aku dapat menggunakanmu untuk berbuat kebajikan.

(-) Sesungguhnya tidak ada waktu yang sudi
berkompromi untuk berhenti.

(+) Wahai detik…… aku memohon, kembalilah
padaku agar aku dapat memanfaatkanmu dan mengisi kekuranganku pada dirimu.

(-) Bagaimana aku dapat kembali kepadamu, padahal aku telah tertutup oleh perbuatan-perbuatanmu!

(+) Coba lakukanlah hal yang mustahil itu dan kembalilah padaku. Betapa banyak detik-detik selain kamu yang juga aku sia-siakan ?

(-) Seandainya kekuasaan ada di tanganku, pastilah aku kembali kepadamu, namun tiada kehidupan bagiku. Dan itu terlipat oleh lembaran-lembaran amalmu dan diserahkan kepada Allah SWT.

(+) Apakah mustahil, jika engkau kembali lagi
kepadaku, padahal saat ini engkau sedang berbicara kepadaku ?

(-) Sesungguhnya detik-detik dalam kehidupan
manusia, ada yang dapat menjadi kawan setianya dan ada kalanya ia menjadi musuh besarnya. Aku adalah termasuk detik-detik yang menjadi musuhmu dan yang akan menjadi saksi atas kamu di hari kiamat kelak.
Mungkinkah akan bertemu, dua orang yang saling bermusuhan ?

(+) Aduh, alangkah menyesalnya aku. Betapa aku telah sering menyia-nyiakan detik-detik dalam perjalanan hidupku. Tetapi sekali lagi aku mohon sekiranya engkau sudi kembali kepadaku, niscaya aku akan beramal saleh di dalammu yang pernah aku tinggalkan.

Maka detik itupun terdiam, tidak mengeluarkan
sepatah kata pun. Aku pun lantas memanggilnya :

(+) Wahai detik, tidakkah engkau dengar panggilanku? Kumohon jawablah…..

(-) Wahai orang yang lalai akan dirinya, wahai orang yang menyia-nyiakan waktu-waktunya…… Tahukah kamu, saat ini, demi mengembalikan satu detik saja, sesungguhnya kamu telah
menyia-nyiakan beberapa detik dari umurmu. Mungkinkah engkau dapat mengembalikan mereka pula? Namun aku hanya dapat berpesan kepadamu,
“Sesungguhnya segala perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) segala perbuatan yang buruk”.

Maka, wahai sahabatku bersegeralah……,
beramallah, bersungguh-sungguhlah, bertakwalah kepada Allah dimana pun engkau berada. Ikutilah perbuatan buruk itu dengan perbuatan baik,
niscaya perbuatan baik itu akan menghapusnya, dan bergaullah dengan sesama manusia dengan budi pekerti yang luhur.